Pasza Agatha Puspandari
Kasus Cyber Crime di Indonesia dan Luar Negeri Yang Pernah Menggemparkan Warganet.
Pada Mei 2021, situs Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, khususnya bpjs-kesehatan.go.id, diretas. Hal ini mengakibatkan data 279 juta orang Indonesia dibocorkan dan dijual di forum online Raid Forums oleh akun bernama “Kotz”.
Dataset yang berisi NIK, nomor ponsel, email, alamat, dan gaji itu dijual seharga 0,15 bitcoin atau Rp 84,4 juta. Untuk mencegah penyebaran data lebih luas, Kominfo kemudian meminta untuk memutus akses tautan unduhan data pribadi dan memblokir Raid Forums.

Polisi juga menjadi korban serangan hacker. Pada November 2021, seorang hacker dengan nama pengguna @son1x666 mengaku telah menyusup ke database kepolisian melalui akun Twitter-nya.
Dalam tweet tersebut, 28.000 detail login dan data pribadi dicuri. Selain itu, terdapat tiga link yang berisi sampel data yang diambil dari database Polri antara lain informasi nama, tempat lahir, nomor induk, alamat, golongan darah, satuan kerja, ras penduduk, alamat email, pangkat keanggotaan dan pelanggaran.
Menyikapi hal tersebut, Polri memastikan sistem keamanan dan data internal Polri tetap aman. Menurut penyelidikan, peretasan ini dilakukan oleh peretas yang sering menyerang situs web pemerintah di seluruh dunia untuk menunjukkan keberadaan dan bentuk protes terhadap ketidakadilan pemerintah terhadap rakyat.

Peretas selalu punya alasan untuk mendorong situs web yang rentan. Begitu juga dengan bocah 16 tahun asal Lahat ini.
Bosen belajar online sejak pandemi Corona, MFW alias Gh05t666nero mengisi waktu luangnya dengan meretas website Kejaksaan Agung RI.
Akibat prank Gh05t666nero, website Kejaksaan Agung RI dibobol, sehingga tampilannya berubah. Di situs web ada pemberitahuan dengan nada protes dan segel HACKED merah.
Tidak hanya itu, Gh05t666nero juga meng-hack database kejaksaan dan menjual 3.086.224 data pribadi ke RAID Forums seharga Rp 400.000.
Kasus ini ditutup setelah MFW diamankan tim Kejaksaan Negeri Lahat dan Kejaksaan Agung Sumsel. Meski begitu, kejaksaan tetap meminta pengguna aplikasi internal Kejaksaan untuk mengganti password.
Informasi menyebutkan, ini bukan kali pertama situs Kejagung diretas. Pada tahun 2017, Kejagung juga dirusak sehingga websitenya menampilkan gambar Harley Queen dan pesan protes dari seorang hacktivist.

Pada saat yang sama, situs web Sekretariat Kabinet Indonesia, yaitu setkab.go.id, diserang oleh serangan sabotase. Deface situs ini memungkinkan peretas untuk mengubah tampilan dan nuansa situs target mereka.
Rupanya, peretasan ini dilakukan untuk tujuan ekonomi, yaitu menjual skrip backdoor dari situs web korban kepada mereka yang menginginkannya.
Awalnya, situs setkab.go.id diretas dan tidak bisa diakses. Tampilan website kemudian berubah menjadi hitam dengan gambar pengunjuk rasa yang membawa bendera merah putih dan tulisan “Padang Blackhat II Anon Illusion Team Pwned By Zyy Ft Luthfifake”.
Menurut penyelidikan polisi, peretasan ini terjadi karena kelemahan sistem keamanan dan kelalaian operator.
Masyarakat Indonesia yang mengunjungi website Telkomsel protes keras karena ditanggapi dengan kata-kata kasar di website provider ternama itu. Ternyata ada orang yang menentang tingginya pajak Telkomsel dengan cara diretas.
Menurut Alfons Tanujaya, pakar keamanan siber, kemungkinan ada lubang keamanan di sistem penyimpanan atau peretas mengetahui nama pengguna dan kata sandi web hosting (brute force).
Akibatnya, peretas berhasil menurunkannya dengan mengubah tampilan dan nuansa situs web Telkomsel. Situs web telah lumpuh, sehingga tidak memungkinkan pengunjung mengakses informasi seperti biasa.
Untungnya, data pelanggan Telkomsel disimpan terpisah dari server website sehingga selalu aman. Telkomsel juga merestorasi website mereka dalam waktu setengah hari.
1.Google China (2009)
Pada paruh kedua tahun 2009, Google China yang diluncurkan tiga tahun sebelumnya mengalami serangkaian serangan siber.
Serangan yang disebut Operation Aurora berhasil mencuri intellectual property dari Google. Serangan ini ternyata tidak hanya menyasar Google, tapi ada 30 perusahaan besar lainnya juga mengalami serangan malware. Dilaporkan bahwa serangan ini merupakan upaya mendapatkan akses ke akun-akun milik para aktivis publik di China.
Dalam sebuah postingan di blog di awal 2010, Google menegaskan bahwa serangan tersebut tidak mencapai tujuannya dan hanya dua akun Gmail yang berhasil diakses. Itupun hanya sebagian saja yang berhasil diakses.
Hasil penelusuran memperlihatkan bahwa serangan tersebut berasal dari dua sekolah di China yang ditengarai bermitra dengan kompetitor Google yang berasal dari negeri tirai bambu itu.
2.Heartbleed (2012-2014)
Heartbleed bukan virus, melainkan bug pada OpenSSL. Heartbleed Bug bekerja dengan cara mengeksploitasi data dari protokol OpenSSL suatu web. OpenSSL sendiri kerap diaplikasikan pada situs-situs pembayaran online seperti e-banking atau paypal. OpenSSL ini bertugas mengenkripsi komunikasi rahasia antara komputer pengguna dan server web yang sedang diakses.
Bug ini memberikan akses ke percakapan pribadi tanpa sepengetahuan user karena peretas membuat gateway di sistem untuk bisa mengakses kapan saja.
Disebutkan bahwa ini merupakan serangan terbesar yang pernah terjadi. Hampir 17% situs web berhasil diinfeksi oleh Heartbleed Bug. Apalagi kemudian diketahui bahwa bug ini sudah wara wiri selama dua tahun sebelum ia ditemukan oleh Google Security pada tahun 2014.
Serangan ini terungkap saat Sony menemukan beberapa fungsi PlayStation Network mengalami gangguan. Meski serangan berlangsung hanya selama 2 hari, namun berdampak pada layanan online PlayStation selama hampir satu bulan dan 77 juta akun terekspos selama 23 hari.
Bersamaan dengan itu, data pada 12.000 kartu kredit dicuri. Akibatnya, Sony dipanggil oleh US House of Representatives dan selanjutnya, Sony dikenai denda sebesar seperempat juta pound oleh British Information Commissioners Office karena dianggap tidak menerapkan security measures yang memadai. Insiden yang berlangsung selama 23 hari ini menimbulkan biaya hingga £140 juta atau sekitar Rp2,8 triliun
4.Sony Pictures Entertainment (2014)
Tiga tahun setelah insiden PlayStation Network, semua mata kembali tertuju pada Sony. Kali ini data-data rahasia Sony Pictures Entertainment yang diretas.
Satu kelompok yang menamai dirinya ‘Guardians of Peace’ atau penjaga perdamaian mengklaim bahwa dirinya ada di balik serangan tersebut dan bahwa mereka telah memperoleh akses setahun sebelum diketahui publik. Data-data yang diakses para peretas adalah data karyawan SPE dan keluarganya, seperti data e-mail, alamat, dan informasi keuangan.
Data lain yang diambil peretas adalah skrip dari film-film yang akan dirilis SPE dan catatan kesehatan para aktor ternama.
Sony harus menyisihkan dana sebesar US$15 juta untuk menangani insiden ini, tapi tidak mampu menghentikan kebocoran data yang terjadi.
Film berjudul The Interview harus ditarik dari peredaran setelah mendapat ancaman dari kelompok GOP.
5.Yahoo (2012-2014)
Serangan menghebohkan lainnya menimpa Yahoo. Sekitar data dari 500 juta user dicuri. Data ini meliputi password dan informasi pribadi, tapi tidak melibatkan data kartu kredit. Peretasan perusahaan teknologi ternama yang tak kalah menghebohkan skalanya, seperti MySpace (359 juta), LinkedIn (164 juta), dan Adobe (152 juta).



No comments:
Post a Comment